RSS

MEMAKNAI MUDIK

09 Sep

Meluruskan Makna Mudik PDF Cetak Email
Oleh : Hidayat BanjarIndonesia terkesan dipenuhi generasi happy. Generasi yang maunya gembira terus, mau enaknya saja. Generasi meok (makan enak ogah kerja).

Lihatlah bagaimana sinetron Indonesia yang menyajikan mobil, makan enak dan glamour. Turun naik mobil, makan enak dan kerjanya belanja.

Kadang kita bicara kemiskinan, di koran tertulis ada ibu yang membunuh anaknya karena takut miskin. Tapi di sisi lain jalan raya macet dipenuhi mobil mewah. Lihatlah jika idul fitri akan tiba, ramai-ramai mudik dan jalan pun macet.

Lalu kita coba bertanya apa benar Indonesia miskin? Coba lihat, di Ramadan ini, siapakah yang meramaikan pasar? Siapakah yang memacetkan jalan? Tak terbantahkan, itulah umat Islam. Berapakah uang yang dibawa untuk mudik? Bayangkan kalau satu mobil seharga Rp 100 juta? Artinya kita melihat uang ratusan juta yang berderet di jalanan.

Jadi, siapa bilang umat Islam di Indonesia miskin? Karena dengan kemiskinannya itu tokh masih bisa mempertontonkan kemewahan. Yang kelas pembantu rumah tangga pulang membawa handphone seri terakhir, yang menengah dengan mobilnya dan yang high class dengan segala kemewahan membuat panggung ini dan itu. Semua gembira di hari raya.

Jadi persoalannya adalah pada pengelolaan, potensi umat ini tidak dikelola secara optimal. Andai semua ini bisa dikelola dengan baik maka Indonesia akan sejajar dengan bangsa lainnya.

Sebagai umat, kita berkepentingan mengingatkan, karena kalau umat Islam sadar akan potensinya, Indonesia juga yang untung karena penduduk negeri ini mayoritas muslim. Para pemimpin harus disadarkan tentang hal tersebut. Karena kendali ada di tangan mereka. Karena tugas pemimpin adalah mengelola semua potensi yang ada.

Karena Ramadan artinya membakar, saatnya membakar semangat bahwa negeri ini harus dibebaskan dari penjajahan yang masih membelitnya: kemiskinan dan kebodohan. Ramadan harus mampu memerdekakan kita rasa malas, putus asa, dan sejenisnya.

Setelah sebulan kita ‘dibakar’ Ramadan seyogianya memasuki lebaran, tampillah jiwa yang fitri sebenar fitri. Lalu mudik dengan makna yang lurus, yang sesuai dengan kesejatian diri yang fitri.

‘Mudik’ dalam Kamus Bahasa Indonesia yang diterbitkan “Citra Umbara” Bandung (1997) diartikan berlayar ke hulu, pulang kampung. Secara bebas kata ‘mudik’ berarti kegiatan pergi ke udik (arah hulu sungai, lawannya hilir). Konon, di P Jawa ada kampung yang bernama “Udik”: Kampung Udik. Jika dimaknai sesuai kamus tersebut, berarti kampung hulu, atau kampung atas, bukan hilir atau bawah.

Pulang Kampung

Dalam kehidupan sehari-hari, mudik sebagai kata kerja lebih populer diucapkan untuk menyatakan kegiatan perantau yang pulang ke kampung halaman. Setidaknya ada dua kelompok orang-orang urban. Kelompok pertama adalah urban yang masih punya keterikatan dengan kampung halaman tempat dilahirkan atau asal-usul keluarga.

Sedangkan kelompk kedua adalah urban yang sama sekali telah terlepas dari asal-usul tempat dilahirkan. Kelompok urban yang kedua, memang sejak ayah – bahkan mungkin kakeknya – telah bermukim di kota besar dan telah terputus dari ikatan primordialisme etnis.

Lalu, orang-orang urban, yang sejak orangtua, lahir, besar dan dewasa di kota-kota besar seperti Medan, apakah tak pantas mengenal dan memaknai kata ‘mudik’?

Secara fisik, urban kelompok kedua memang tak akan dapat memaknai kata ‘mudik’, karena kampung halaman, tumpah darahnya, ya di Medan dan kota-kota besar lainnya, karenanya, ke mana mereka mau mudik? Tetapi, secara non-fisik, urban kelompok kedua dapat dan sah-sah saja untuk memaknai kosakata ‘mudik’ setelah sebulan penuh berpuasa (menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa).

Perjuangan keras kawan-kawan urban kelompok pertama untuk mudik melihat kampung halaman saat lebaran merupakan refleksi dari dorongan jiwa yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ada yang mengatakan prosesi mudik merupakan pengalaman nostalgik bercampur jadi satu dengan keinginan untuk napak tilas masa lalu atau membuka rekam jejak (track record) yang mengantarkannya jadi orang perantauan dengan beragam entitas.

Makna Simbolis

Proses sebelum menjadi (to be), ini memang lebih penting dari sekadar menjadi. Sebab, di balik gemerlap keberhasilan kini, sangat boleh jadi ada keringat, air mata, bahkan mungkin darah. Rekam jejak ini pantas dan wajar dikenang agar tetap mawas diri untuk kehidupan selanjutnya.

Karena itu – bagi urban seperti kelompok kedua – lebaran merupakan momentum penuh makna simbolis untuk menyempurnakan laku selama Ramadan yang penuh berkah, kasih sayang dan ampunan Tuhan. Prosesi mudik lebaran – secara filosofis merupakan refleksi dari keinginan untuk membali ke asal: mengingat asal-asul. Boleh jadi inilah yang menjadi magnet besar, pendorong kaum urban kelompok pertama – yang memang punya kampung halaman – untuk mudik secaara massal saat menjelang lebaran tiba.

Sebagaimana lebaran yang dimaknai sebagai hari kemanangan setelah memerangi hawa nafsu selama bulan Ramadan, tradisi mudik – secara fisik maupun non-fisik – dimaknai sebagai proses penyempurnaan pembersihan jiwa untuk kembali ke jati diri yang sesungguhnya fitri (suci).

Seseorang yang pulang kampung akan ‘menanggalkan’ seluruh label yang lekat pada dirinya. Apakah pejabat, seniman, wartawan, pedagang, dan lain sebagainya, menyatu dalam prosesi mudik. Saat bersilaturrahmi kepada kerabat dan kawan lama, sosok-sosok itu hanyut dalam ritme keakraban dan solidaritas masa lalu yang menghapus status sosial. Silaturrahmi Lebaran mengomunikasikan suasana batin untuk sama-sama memaafkan dan berharap lebur semua dosa. Semuanya kembali ‘mudik’ ke wujud yang asal.

Lebaran menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya semangat untuk kembali dalam banyak hal. Mudik secara fisik mengingatkan seseorang bahwa ia punya kampung halaman, punya daerah asal, sehingga tidak lupa diri. Mudik secara non-fisik merupakan perjalanan kembali menjadi suci tanpa dosa yang diungkapkan dalam bahasa minal aidin wal faizin (mudah-mudahan tergolong orang yang kembali bersih dan menang melawan nafsu).

Mudik juga menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran orang untuk kembali pada asalnya, sehingga betapa pun tinggi pangkat seseorang tetap dituntut untuk selalu ingat dari mana ia berasal. Sangkan paraning dumadi (dari mana dan mau ke mana) kita?

Falsafah Jawa mengingatkan hidup adalah sebuah “perjalanan”. Ungkapan yang sangat umum “Sangkan paraning dumadi” mengingatkan manusia di dunia ini harus memahami dari mana “asal”, akan ke mana “tujuan” dan “akhir” perjalanan hidupnya dengan benar – kassampuraning dumadi (kesempurnaan tujuan hakikat). Waluhualam Bisawab.***

Penulis adalah peminat Masalah Sosial Budaya. Tinggal di Medan.

Sumber:http://www.analisadaily.com

 
Leave a comment

Posted by on 9 September 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: