RSS

OKNUM DAN MAFIA HUKUM, SIAPA PELAKUNYA? (bagian 1)

23 Mar

Bagaimana kebejatan mafia hukum terbentuk ? Dinegara ini dimana moral sudah runtuh, impian menggaruk kekayaan dengan cara pemerasan merasuki beberapa orang, rekayasa hukum dan sekelompok manusia nekad berkumpul : pengusaha bangkrut dan tak bermoral, jaksa bejat, oknum kejaksaan, hakim bajingan , pengadilan negeri yang curang dan mahasiswa bermoral rusak dalam situasi kebejatan moral yang dimuarai dengan kemiskinan batin. Mudah sekali bagi sekelompok orang untuk bermimpi : MENJADI KAYA RAYA dengan menghalalkan segala cara , bahkan yang sangat kejam dan bertentangan dengan asas agama dan keadilan sosial. Hal yang terjadi di Kota Malang patut disimak dan direnungkan : dimana sekelompok kecil mahasiswa digunakan untuk tindakan AMORAL dengan suatu skenario kejam dan sangat keji. Seorang eksekutip BCA, ialah Kepala Wilayah VII BCA digunakan sebagai sasaran antara dalam upaya pemerasan terhadap Bank yang tengah dikuasai oleh BPPN, berarti milik negara sebelum dijual kepada pengusaha perbankan. BCA merupakan Bank ternama dengan penggunaan teknologi canggih dan merupakan bank terbaik dinegara ini. Bank inipun memiliki eksekutip terbaik dan memiliki sumber daya manusia yang sangat berjasa dalam kemajuan perbankan di Indonesia. Pelatihan, training, seminar dan berbagai teknologi digunakan untuk memajukan bank tersebut dan banyak manager menengah, manager puncak dari bank tersebut direkrut oleh perbankan nasional maupun bank-bank asing. Citibank yang merupakan Bank berasal dari Amerika dan memiliki cabang hampir diseluruh penjuru dunia tersebut merekrut beberapa manager dari BCA dan diangkat sebagai manager handal pada cabang-cabang yang didirikan oleh Citibank dalam rangka perluasan. Citibank yang tadinya merupakan sumber daya manusia pada perbankan nasional dengan transfer pakar-pakar perbankan untuk menjadi eksekutip puncak pada perbankan nasional mulai merekrut orang-orang dari BCA. Hal ini membuktikan bahwa BCA merupakan bank yang sangat disegani , bukan saja dalam teknologi, agresivitas maupun dalam kemajuan sumber daya manusia. Setelah terjadinya kerusuhan 13 – 15 Mei 1998 dan m engakibatkan hancurnya konglomerat dan hancurnya sektor perbankan, BCA diambil alih oleh BPPN dan BPPN menempatkan beberapa eksekutip dari Bank Negara dan salah satu Direktur baru yang berasal dari Bank negara menyatakan : “ Sungguh saya heran, BCA demikian majunya dalam penggunaan teknologi modern , lihat saja teknologi penggunaan ATM yang tersebar diseluruh tanah air.” Selanjutnya dengan bangga direktur baru tersebut menyatakan : “ Saya sangat kagum dengan sumber daya manusia yang dimiliki bank ini, sangat loyal , sangat dedikasi dan benar-benar dibutuhkan untuk kemajuan sektor perbankan.” Kekaguman ini juga dinyatakan dengan perekrutan beberapa manager menengah BCA untuk diangkat sebagai Kepala Cabang Citibank. Beberapa ora ng manager BCA dijadikan direktur pada beberapa bank yang mulai rehabilitasi setelah hancurnya sektor perbankan akibat krisis moneter berkepanjangan yang menimpa negeri ini.

Drs Anugerah Sutawiyana merupakan sosok kepala wilayah VII dari BCA dan seharusnya ia sudah lama pensiun, tetapi dedikasi, kepakaran dan kejujurannya menjadikan ia sebagai ASET BCA dan seorang manager BCA berpendapat bahwasanya ia merupakan aset dunia perbankan. Seorang kawan baiknya menceriterakan mengenai masalah yang dihadapi “manusia lugu” , demikian teman saya menjuluki Pak Anugerah. Teman tersebut mengenalnya sewaktu ditahun 1960-an ia kuliah di universitas Gajah Mada dan tinggal ditempat kost yang sama di Jalan Gowongan Kidul, kawasan mahasiswa miskin di Jogyakarta. Kala itu Anugerah merupakan mahasiswa yang bekerja sebagai asisten dosen, guru SMA dan memberikan les-les privat serta membantu teman-teman karena ia merupakan mahasiswa teladan, sangat pandai dan menguasai ilmu yang dipelajari dengan tekun. Teman tersebut tahu persis bahwa Anugerah yang hidupnya sangat prihatin dan sangat supel bergaul dengan teman-temannya selalu membantu siapa saja yang membutuhkan dan bersedia berkorban untuk kawan-kawannya. Dikemudian hari ternyata Anugerah mampu berkarir didunia perbankan dari seorang staf menjadi tenaga inti dengan jabatan Kepala Kantor Wilayah VII BCA, suatu jabatan tinggi bergengsi yang membuktikan bahwa ia seorang pakar , jujur dan berdedikasi. Berbagai jabatan direktur ditawarkan kepada Anugerah agar mau hengkang dari BCA, tetapi ia selalu menolak sebagai wujud dedikasi kepada bank dimana ia merunut karirnya selama bertahun-tahun, demikian penuturan kawan penulis . Sebagai kepala kantor wilayah BCA ia diperpanjang masa kerjanya dan sampai diusia 66 tahun ia masih tetap aktip meskipun seharusnya sudah memasuki masa pensiun. Perlu diketahui bahwa rata-rata perusahaan Indonesia memakai umur 55 tahun sebagai usia pensiun. Dengan perpanjangan masa pensiun sampai menjelang usia 66 tahun membuktikan bahwa Pak Anugerah memang merupakan kekuatan BCA, merupakan orang yang disegani dan tenaga karir yang dianggap sangat berjasa. Teman tersebut menceriterakan banyak hal mengenai Anugerah Sutawiyana tersebut dan penulis lalu memantau dan mengecek ke kawan-kawan di Jawa Timur , kawan-kawan didunia perbankan dan teman yang baru 2 tahun ini menjabat sebagai direktur BCA dan berasal dari bank negara. Dari pemantauan inilah data-data terkumpul dan seorang nasionalis yang jujur HARUS mau meluangkan waktu untuk membeberkan masalah tersebut. Pertama ialah masalah seorang eksekutip jujur berdedikasi yang diobok-obok aparat hukum dan kemudian diistilahkan dengan mafia hukum dan ditengarai sebagai masalah yang melanda dunia hukum dinegara ini. Kedua , masalah penggunaan mahasiswa yang terkena dampak kesulitan ekonomi sehingga moralnya tidak kuat dan tergoda bujukan duit. Padahal justru seharusnya mahasiswa berjiwa jujur dan adil, bukannya mau bertempur dipihak kebathilan dan mau diperalat oleh kelompok mafia jahat. Apalagi dengan menggunakan nama FORMAH – Forum Mahasiswa Peduli Keadilan, suatu kejahatan moral dan membuat nama ! Universitas Brawijaya mungkin rusak. Ketiga , ialah adanya konspirasi berbagai oknum instansi pemerintah untuk berbuat curang dan melakukan kebejatan serta kejahatan jabatan karena bujuk rayu pengusaha kotor dengan membagikan duit. Jaksa Sucipto SH merupa kan profil jaksa yang dikenal sebagai organisator perkara-perkara mafia sekitar pengadilan negeri Malang. Ia selalu mengatur berbagai perkara agar pihak yang membayar dimenangkan. Sucipto SH sangat dikenal mampu mengatur perkara-perkara hukum karena ia memiliki JARINGAN kerja sama dengan aparat kotor lainnya. Kepolisianpun dirambahnya dan beberapa perwira kepolisian masuk dalam DAFTAR orang bayaran kelompok Sucipto SH. Beberapa kali Sucipto SH yang senior dikejaksaan negeri Malang akan dipromosikan untuk jabatan yang lebih tinggi, tetapi yang bersangkutan selalu menolak sebab posisi tinggi berarti harus meninggalkan kota Malang, tempat ia menumpuk kekayaan dengan kelompok mafianya. Suatu keanehan bahwa seseorang dipromosi tetapi selalu menolak. Ada juga yang berpendapat : “ Menjadi Jaksa gajinya nggak seberapa, tapi SABETAN-nya….. duilah ! “ Sucipto SH dan komplotannyalah yang mengatur perkara-perkara dipengadilan negeri Malang, jaringannya kabarnya sampai ketingkat pusat dan keberbagai instansi terkait. Tentu saja hal ini sangat menjengkelkan bagi aparat-aparat yang jujur. Seorang perwira menengah kepolisian sebut saja Kolonel X (ia menolak namanya disebut) memberikan keterangan mengenai perkara akan ditangkapnya Angerah beberapa waktu lalu sebagai KEJAHATAN JABATAN. Kolonel tersebut tahu persis bahwa seorang rekannya DIBELI oleh kelompok mafia untuk melancarkan perintah penangkapan tersebut. Perintah tersebut gagal dilaksanakan sebab adanya perwira jujur yang membocorkan rencana keji tersebut. Jadi kita masih memiliki aparat yang berdedikasi dan tidak setuju pada kejahatan kepolisian maupun kejahatan aparat hukum lainnya. Dalam kelompok Formah yang selalu dilakukan oleh beberapa gelintir mahasiswa menunjukan bahwa mereka memang rusak dan bukan mewakili seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya. Beberapa orang mahasiswa mengatakan bahwa kelompok Formah adalah kelompok mahasiswa pengangguran yang kacau kuliahnya dan mereka terhimpit kesulitan ekono mi akibat ulah mereka sendiri, malas bekerja dan malas belajar: calon mahasiswa drop out atau mahasiswa abadi. Nurul Hidayat yang merupakan ketua kelompok adalah orang bayaran dari pengusaha Agus Mulyantono (Oen Yong Yauw) . Agus menghadapi kesulitan karena hutang-hutangnya dan karena jatuhnya bisnis pertanahan, lahan usaha pertanahan yang seringkali berbau mafia, dan seringkali merugikan rakyat kecil. Dalam berbisnis Agus dikenal sebagai orang yang keras, sering menggunakan tukang pukul dan mengintimida si rakyat kecil pemilik tanah. Dalam perkara BCA sebetulnya Agus mewakili kakaknya ialah Hadi Sukamto (Oen Yong Ing) yang sudah kabur lebih dari 10 tahun dari kota Malang . Yong Ing bangkrut akibat bisnis properti hancur dan akibat tidak mampunya mengelola perusahaan properti tersebut. Ia kabur sebab banyaknya hutang dan banyaknya kewajiban terhadap pembeli tanah yang sudah membayar tetapi tidak pernah diselesaikan urusannya. Salah satu sebab yang menyebabkan kebangkrutannya ialah ulah Oen yang bernuansi penipuan terhadap pelanggan. Seorang pengusaha dituntut moral yang baik, dituntut bekerja dengan jujur dan bekerja keras. Justru Oen bersaudara merupakan contoh jelek, penipuan, pemerasan, penggunaan cara-cara kotor bahkan sangat kejam. Hutang-hutang kedua pengusaha kakak beradik tersebut sudah terlalu banyak, apalagi dengan pengeluaran-pengeluaran untuk membeayai kelompok mafianya termasuk Jaksa Sucipto SH, Hakim I Gde Sumitra SH, Nurul Hidayat, beberapa oknum anggauta Kepolisian Wilayah Malang, Dalam aksinya Agus Mulyantono selalu menggunakan pemerasan dan dari hasil pemerasan tersebut ia merencanakan pekerjaan lebih besar dan menyangkut beberapa milyar Rupiah. Beberapa sumber mengatakan bahwa ! kalau penuntutan terhadap Anugerah sebesar 4 milyar Rupiah berhasil, mereka akan melakukan rekayasa lebih BERKELAS dengan modal besar dan menuntut BCA sebesar 600 Milyar Rupiah , tidak tanggung-tanggung. Tentu saja IMPIAN menjadi jutawan bahkan milyarwan tanpa kerja keras inilah yang merasuki pikiran Agus Mulyantono, Hadi Sukamto, Nurul Hidayat , I Gde Sumitra SH, Sucipto SH dan beberapa oknum hukum lainnya.

sumber: http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/01/24/0009.html

 
Leave a comment

Posted by on 23 March 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: